Griya Jahit

Kain Etnik Tetap Jadi Primadona Fesyen 2011

In Fashion on December 31, 2011 at 13:21

Meski diwarnai banyak material lain, ragam kain etnik Indonesia tetap menjadi primadona untuk dikulik para desainer. Hal itu terlihat dalam beberapa pergelaran busana megah yang dihelat desainer Indonesia.

Kekayaan kain adati yang dimiliki Indonesia memang beragam. Berbagai kain etnik dari daerah-daerah di Indonesia tersebut tak hanya menjadi kekayaan tersendiri tapi juga menjadi ciri khas negeri ini. Sebut saja batik, songket, sarung, ulos hingga tenun yang begitu indah mengulik para desainer untuk mengolahnya jadi hasta karya mengagumkan.

Beberapa tahun lalu, batik sempat booming di Indonesia. Batik yang merupakan warisan leluhur tersebut sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, hanya saja persepsi kain yang lekat dengan orang tua membuat batik kurang bisa diterima generasi milineum. Alhasil, batik pun menjadi produk yang dianggap “jadul” dan kurang menarik untuk dikenakan.

Kondisi tersebut tentu sangat miris mengingat batik merupakan warisan budaya yang seharusnya dilestarikan. Beruntung, kalangan desainer yang semula tak banyak mengolah batik perlahan menggunakan material tersebut sebagai campuran bahan dalam merancang busananya.

Batik di pasaran pun kembali menggeliat. Hal itu semakin diuntungkan dengan pencanangan Jumat berbatik yang membuat batik kian digemari sebagai busana keseharian dan bukan busana kondangan semata. Apalagi, pertumbuhan model busana batik semakin variatif, chic dan stylish. Tak heran, batik pun kian digemari semua kalangan tak terkecuali anak-anak.

Respons pasar yang positif kemudian menggugah para desainer untuk menyelami batik dalam rancangan yang mereka telurkan. Jadilah berbagai fashion show yang diikutinya pun menjadi ajang pamer kreativitas batik dengan berbagai model.

Barli Asmara misalnya, yang mengangkat pamor batik Kudus. Desainer muda dan berbakat tersebut menciptakan inovasi dalam model sehingga motif batik Kudus yang kuno tampil indah dengan rancangan modern.

Olah busana bermaterial batik Kudus pun turut dilakukan Eddy Betty. Keindahan batik Kudus disulap Edddy Betty dalam potongan busana ready-to-wear yang menarik. Dengan sajian warna busana mencolok dan cutting asimetrik bertumpuk, rancangan yang dihasilkannya selalu berhasil menggugah masyarakat untuk mengenakannya.

Pesona batik yang sempat bergaung kemudian disusul dengan kain etnik lainnya yang semakin banyak diolah para desainer. Kain adati menarik lainnya yang menggugah para desainer untuk mengolahnya yakni tenun, sarung, dan songket.

Desainer yang salah satunya mencoba mengolah tenun sebagai busana indah, yakni Agnes Budhisurya. Agustus 2011 lalu, desainer yang terkenal dengan sapuan cat lukis tersebut mengolah tenun NTT yang memiliki motif berserat. Busana-busana ringan seperti mini dress, long dress, kemben hingga jubah panjang dipamerkannya. Untuk membuat kesan flowy, Agnes mengombinasikan dengan bahan lain seperti katun, tenun polos, linen, serta tulle di dalamnya.

Pengolahan tenun pun dilakukan desainer berdarah Manado, Thomas Sigar. Thomas yang tertarik mengolah tenun Minahasa tersebut menawarkan busana yang dipresentasikannya melalui kain tenun dan print, sutra, dan kain patola. Menariknya, Thomas berusaha memertahankan motif-motif asli yang mulai menghilang dalam tenun sutra serta motif cetak tangan di atas sifon dan sutra.

Tak kalah menarik, sarung pun menjadi material menarik yang coba diulik para desainer yang 2012 menjadikan sarung sebagai higligh dalam perhelatan Indonesia Fashion Week. Karenanya, sejak 2011 ini, para desainer yang tergabung dalam fashion show tersebut coba untuk terus mempromosikan kepada publik cara penggunaan sarung sehingga kain tersebut dapat menjadi tren di masyarakat. Dengan promosi tersebut, diharapkan sarung pun dapat menyuburkan produksi dalam negeri dan mensejahterakan masyarakat.

Ragam kain etnik yang semula jarang dilirik saat ini justru menjadi ketertarikan para desainer untuk menjadikannya item fesyen menarik yang tak kalah dengan barang branded dari luar negeri. Hal terpenting, misi mereka dalam menjadikan kekayaan Nusantara menjadi tuan rumah di negeri sendiri adalah cita-cita yang seyogyanya perlu diberikan dukungan positif. (tty)
(mbs)

sumber : okezone.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: