Griya Jahit

Etnik Kontemporer Dominasi Tren 2012

In Fashion on December 1, 2011 at 11:55

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Tampaknya fashion tak hanya milik kaum urban saja. Kini fashion pun mulai milik semua kalangan, hingga ke berbagai daerah. Maka dalam tren 2012 mendatang, busana-busana yang akan ditampilkan lebih mengusung lokalitas.

“Hanya saja ada perpaduan dua kultur yakni tradisional dan modern, yang berkolaborasi sehingga menjadi sebuah perpaduan etnik kontempoer. Ini akan menjadi tren yang akan berkembang tahun depan,” ucap Indraty Setyawan, Desainer Anggota Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) DIY, ketika berbincang dengan Tribun Jogja, Sabtu (2/12).

Apa yang dibayangkan ketika bicara soal desain tren etnik kontemporer ? Indraty mengungkapkan etnik itu adalah sebuah pakaian yang banyak menampilkan detail yang tidak biasa. Semisal batu-batuan swarowsky, tembaga dan juga logam. Hanya saja, disini Indraty ingin menggarisbawahi bahwa tren etnik tak melulu diaplikasikan hanya dalam sebuah kebaya. Berbagai bentuk busana pun bisa ditampilkan dengan ciri khas etnik.

“Semisal busana dari kain organza ini akan menjadi etnik jika dikombinasikan dengan kain brokat, dan diberi sentuhan payet, dan taburan batu-batu swarowsky, akan menjadi tampak mahal. Dan ini bisa dijadikan atasan untuk acara-acara di malam hari,” ucap In, sapaan akrab dari Indraty.

Menurut Indraty sentuhan modern juga akan mendominasi busana untuk tahun 2012. Baju-baju yang simple dan elegan pun juga masih diminati masyarakat. Karena sejauh ini, In mengaku banyak mendapatkan klien yang usianya antara 25-45 tahun yang mendesain kebaya ataupun gaun dengan model simple elegan.

“Saya selalu menyesuaikan dengan keinginan pelanggan, apa yang mereka inginkan untuk dirinya, namun saya juga tetap menyelaraskan keinginan dengan tren yang berkembang saat ini,” ucap Pemilik In Mode di Jl. Diponegoro No 19 Yogyakarta .

In juga pernah merancang busana dengan teman passion Touch yang ditampilkan pada Fashion Tendance 2012. Dimana ia, mengambil inspirasi dari ungkapan akan keseimbangan hidup yang kadang tenang dan indah atau sebaliknya. Karakter busana yang ingin ditonjolkan adalah konvensional dan feminin namun tetap ada sentuhan etnik. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pakaiannya itu cenderung ke tenun motif geometri, Velvet, sifon silk, dengan warna natural dan right.

“Saya juga buat blus-blus etnik dengan potongan lengan lebar, dan juga dress untuk acara formal maupun sekedar untuk bergaul dengan teman-teman arisan atau kelompok organisasi, bentuknya memang simple dan etnik,” ucap In.

Perancang lain yang mengusung tema yang sama adalah Michael. Pemilik Rumah Mode Michael mendesain bsuana yang banyak memberikan sentuhan etnik dan kontempoer. Itu tercipta dalam rancangan yang bertema Akulturasi, dimana idel awal usahanya ini banyak terinspirasi dari kain batik. “Meski batik namun bisa tetap memperlihatkan busana-busana yang femininin, kosmopolitan dan etnik, “ kata Michael.

Busana yang digarap Michael lebih banyak menggunakan kain katun, linen, silk, lace, tafeta, dan siffon silk. Dengan warna-warna sogan, merah fanta, blueberry, dan abu-abu. Sementara untul menonjolkan kesan etnik maka akan ditampilkan detail bordir, quilting, beads, dan aplikasi kulit ular. (*).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: